January 27, 2015

Go Green & Get Rich!

Sumber gambar di sini

     Dulunya, Indonesia adalah negara yang sering disebut-sebut sebagai zamrud khatulistiwa. Bagaimana tidak, ribuan pulau nya yang bertebaran tepat di garis khatulistiwa antara Benua Asia dan Australia dari angkasa tampak menghijau, terangkai indah di atas birunya samudera. Barangkali, dulu Indonesia memang layak menyadang julukan itu. Sayangnya, tidak lagi sekarang.

     Ya, Indonesia kini telah memiliki wajah baru. Hutan dan lahan hijau nya yang terkenal di seluruh dunia sedikit demi sedikit ini mulai lenyap, berganti jalan-jalan, rumah-rumah dan gedung-gedung bertingkat. Tak sampai di situ saja, aktivitas masyarakat penghuni Indonesia yang notabene adalah negara berkembang, kini setiap harinya mempropduksi berton-ton sampah dalam berbagai wujud. Itu belum termasuk pencemaran udara, air dan tanah nya. Hijaunya zamrud itu kini telah memudar.

Sumber gambar di sini


     Apakah sudah ada usaha untuk mengatasi masalah itu? Sudah. Banyak malah. Pemerintah dan seluruh pihak yang merasa bertanggung jawab sudah melakukan banyak langkah. Tapi tampaknya semua belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Kegiatan "Aksi Tanam Pohon" kini hanya tinggal event belaka, yang ramai dilakukan ketika sedang musimnya, namun tidak diperhatikan kelanjutan nasib pohon-pohonnya. Semboyan "Buanglah Sampah Pada Tempatnya" kini hanya tinggal kata-kata yang tertempel di mana-mana. Membeku di jalanan, menjadi saksi bisu makin buruknya kondisi alam Indonesia seiring bertambahnya waktu karena kita jarang menerapkannya.

Sumber gambar di sini

   Sementara, kitalah yang sudah menyulap rimbunnya hutan dan suburnya lahan menjadi jalan-jalan, rumah-rumah dan gedung-gedung bertingkat. Kitalah yang sudah menyihir lingkungan yang bersih dan sehat menjadi onggokan kotor dan berpenyakit. Lucunya, saat makin parahnya kerusakan hutan dan lahan atau saat parahnya masalah persampahan mulai meninmbulkan gangguan, kita justru menyalahkan pemerintah.

     Padahal, sebenarnya kita sendiri tahu siapa yang seharusnya bertanggung jawab tanpa perlu lagi mencari siapa yang salah dan siapa yang patut disalahkan. Ya, kita lah yang seharusnya bertanggung jawab.terhadap kerusakan yang kita buat sendiri. Siapa yang menanam, dia yang menuai. Siapa yang melempar lebah, dia yang disengat. Bukankah begitu?

Sumber gambar di sini


     Sebenarnya, ada banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya dan mencegah muncul nya masalah yang sama di kemudian hari, tanpa membutuhkan banyak dana, sumbangan warga atau bantuan walikota. Ya, bila kita sungguh-sungguh menjalankan program “One Man One Tree” pada diri kita masing-masing, maka mungkin Indonesia bisa hijau kembali. Atau jika kita dengan sungguh-sungguh membuang sampah pada tempatnya, maka mungkin Indonesia bisa bersih kembali. Sayangnya, hal itu akan sulit bila tak ada kemauan.

     Nah, di awal tahun 2015 ini, salah satu lembaga yang amal non-profit yang ada di Indonesia, The Nature Conservancy Program Indonesia, mengajak kita semua untuk menciptakan resolusi upaya-upaya apa saja yang bisa kita lakukan untuk menghijaukan kembali negara yang kita cinta dengan tajuk #ResolusiHijau1015. Dan berikut ini adalah beberapa resolusi hijau versi saya yang dapat kita (saya dan teman-teman lainnya yang tertarik untuk ikut mencoba) lakukan dengan penuh semangat, karena tak hanya sekedar langkah penghijauan atau menjaga kebersihan semata, namun juga bisa menjadi penghasilan tambahan yang bisa langsung dirasakan sendiri keuntungannya.

1. Re-Cycle into Fancy Stuff
Jangan bayangkan dulu bahwa kita akan mengorek-ngorek tempat sampah demi mencari benda-benda tertentu. Kita cukup menyediakan wadah atau kantong khusus di rumah, untuk membuang benda-benda yang dapat didaur ulang saja, seperti botol plastik bekas minuman, kaleng, botol kaca, plastik kemasan berbagai produk, karung goni, dan sebagainya. Ini bisa memiliki nilai ekonomis. Jika ingin cara yang cepat, kita bisa langsung menjualnya kepada pengepul atau tukang loak kiloan. Bila ingin nilai jual yang lebih, tinggal diberi sentuhan kreativitas. Kita bisa membuat benda-benda bekas tersebut menjadi kerajinan tangan seperti tas, mainan anak-anak, perabotan, hiasan, dan lain-lain. Ada banyak sekali referensi d internet yang bisa kita gunakan untuk mengolahnya.

Sumber gambar : gambar 1, gambar 2, gambar 3


2. One Man One Fruit Tree
Program wajib tanam satu pohon per-orang mungkin terdengar membosankan. Namun, bagaimana kalau pohon yang kita tanam adalah pohon buah? Memang membutuhkan waktu yang lumayan lama, namun justru disanalah bagian yang mendebarkan. Saat pohon kita sudah menghasilkan buah, kita jadi bisa memiliki sumber vitamin sendiri. Gratis pula. Bayangkan berapa uang yang berhasil kita hemat karena tidak membeli jus atau buah-buah di supermarket karena punya pohon buah di rumah? Apalagi kalau kita bisa menjual buah tersebut, baik mentah-mentah maupun hasil olahannya. Jangan terkejut, kita bahkan bisa mengembangkannya menjadi bisnis kuliner, lho. Kita bisa saja kaya mendadak. Terlebih bila buah yang kita hasilkan adalah buah yang banyak disukai orang.

Sumber gambar di sini


3. The Green Habit
Jangan hanya saya dan kita yang melakukan resolusi hijau ini. Sebaiknya kita juga mewariskan nilai-nilai peduli lingkungan ini kepada generasi selanjutnya agar tetap ada yang melakukannya. Pada adik-adik kita atau pada anak-anak kita, misalnya. Kita bisa mengajak mereka saat membuat kerajinan tangan dari barang bekas atau saat menanam pohon buah. Bagi anak-anak, kegiatan seperti ini tentu akan sangat berkesan. Apalagi bila bisa mengemas kegiatannya sambil bermain. Mungkin ini juga bisa dijadikan kegiatan di sekolah untuk anak usia dini seperti TK atau PAUD. Pasti akan sangat menyenangkan.

Sumber gambar di sini

Sederhana tapi luar biasa sekali, bukan?
Saya sendiri berharap, semoga di tahun 2015 ini saya bisa mulai melaksanakan resolusi ini di rumah dan mengajak teman-teman saya yang lainnya. Dan tak ada salahnya kita semua mencoba memulainya juga! Karena selain membantu menghijaukan kembali Indonesia, kita juga bisa mendapatkan penghasilan. Nah, tunggu apa lagi? :)

January 25, 2015

Review buku : 88 Love Life

Merasa jenuh dengan keseharian yang datar?
Merasa letih dengan impian yang tak kunjung kesampaian?
Merasa lelah dengan haters yang suka nge-judge?
Merasa bosan dengan percintaan yang hambar?

Buku ini bisa jadi obatnya!


Buat kamu yang belum tau, buku #88LoveLife yang ditulis oleh Fashion blogger nomor 1 sekaligus pelopor fashion blogging industry di indonesia ini memang lagi happening banget. Adalah Diana Rikasari, yang biasanya humoris, weird but always cute, nyantai, easy going, lucu, humble dan apa adanya ; ternyata sangat serius kalau sudah bicara soal kehidupan dan Cinta.