April 23, 2014

Flash Fiction : Titisan


      “Aku adalah titisan Chairil Anwar!” katamu suatu hari.

     Kala itu aku tak tertarik untuk mengomentarimu. Kau sudah terlalu sering mengatakan hal-hal aneh. Paling tidak, begitulah kesimpulanku sebagai orang terdekatmu selama beberapa tahun ini. Kau pernah mengaku bertemu  aristoteles di toilet asrama. Kau bahkan juga pernah mengaku diutus neptunus lewat radarnya.

     Dan biasanya kau akan lupa dengan semua yang kau ucapkan dalam beberapa jam. Aku rasa aku sudah terbiasa untuk mengabaikannya. Seharusnya aku juga tak perlu mengabaikan ocehanmu kali ini. Cukup masuk akal, bukan?

     Tapi entah kenapa, kau mulai terasa agak berbeda. Kau mengulangi kalimatmu berkali-kali. Berhari-hari. Bahkan kalimatmu tak lagi sebatas “Aku adalah titisan Chairil Anwar!”. Tapi kau juga sudah menyebut-nyebut dirimu sebagai binatang jalang dari kumpulan yang terbuang. Kau bahkan bilang ingin hidup seribu tahun lagi! Brrrr....

     Yang kusesali, aku terlambat menyadari bahwa kau mulai kesetanan. Kau harus kembali ditahan. Aku terlalu terbiasa mengira bahwa kau cuma sedikit aneh karena kecanduan mendengar buku-buku yang kubaca. Aduh. Kenapa aku tak mencegahmu saat kau memecahkan jendela lantai lima dan melompat—lalu mati seketika?

     Harusnya aku tak mengajakmu kabur dari rumah sakit jiwa.
     Harusnya aku tak membohongimu—mengatakan kau itu titisan pujangga.
     Harusnya mama tak ditempatkan di sel sebelahmu, Raka..

April 19, 2014

Photoset : Carocok Beach, Painan

So this is some photos from my holiday some months ago, neglected in the flash disk and too good to be forgotten. Carocok beach is one of the most beautiful tourist spot in Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia.

April 16, 2014

Return

       Yess. I'm return.
     Maksudnya bukan sekedar kembali dari berlibur seperti biasa. Kembali dalam konteks ini adalah kembali kembali pada jalan. Pada tujuan. Pada rencana-rencana yang dulu saya cita-citakan untuk dilaksanakan. Return barangkali lebih terdengar serius daripada sekedar Back. Isn't it? And that's it ;)

     Lebih spesifik, saya kembali pada kepenulisan. Well, you know: Saya hampir tak pernah menulis sesuatu yang "bernilai" lagi belakangan ini. Saya sibuk dengan urusan kampus. dan bersenang-senang. dan ujian. dan bersenang-senang. dan tugas-tugas. dan bersenang-senang. dan mengaku tak punya waktu lagi untuk menulis (yang saya nyatakan sebagai hobi serta bagian dari profesi). Saya mengkambing-hitamkan kesibukan. Padahal setelah dituliskan pada kertas, ternyata jadwal saya tak seberapa. Ada banyak waktu kosong yang bisa saya gunakan untuk menulis, sebenarnya. Tapi memang, selain karena manajemen waktu yang buruk, saya juga terlalu banyak bersenang-senang/hangout dengan teman-teman, terlalu candu akan TV, Laptop dan Handphone, terlalu banyak godaan aktvitas lain yang jauh lebih menyenangkan dan lain-lain. Dan hasilnya saya mandul. Saya tak produktif.


     Ini terasa seperti tamparan ketika teman-teman saya yang lain sudah berkarya dimana-mana (padahal saya merasa mulai terjun dalam dunia kepenulisan lebih dulu daripada mereka). Sementara, apa yang bisa saya banggakan? Saya tak punya karya. Saya terlena dengan hal lain yang tak begitu penting. Dan tanpa malu saya masih mengakui diri sebaga penulis. Konyol. Saya bahkan sudah tak menulis lagi. Sungguh. Hal ini mengganggu pikiran saya seminggu ini, saya gundah saudara-saudara. Galau sudah terlalu mainstream.

     Semalam saya sudah mulai berusaha memperbaiki kembali semuanya. Curhat habis-habisan pada salah satu penulis hebat yang saya kenal, Bang Sulung, dan mendapatkan banyak teori solusi untuk mengobati kemandulan saya. Termasuk untuk mengobati orientasi kepenulisan saya yang sakit (belakangan ini saya cenderung matrealistis. Menulis demi imbalan. bukan lagi demi kesenangan. hiks..). Padahal dulu saya tidak begitu. Dan karena itulah saya ingin kembali. Kembali seperti dulu.

      Lalu blog ini, yang beberapa bulan ini terasa hanya dipenuhi oleh tulisan kosong tak bernyawa (karena memang tidak serius dalam hal konten, update karena terpaksa) insya Allah akan saya benahi juga. Mungkin akan ada hal yang cukup "bernilai" yang bisa saya share. Daripada sekedar laporan kegiatan. Well, memang saya adalah personal blogger, yang menulis blog untuk kesenangan dan kepuasan sendiri. Tapi saya lupa, bahwa ketika seseorang sudah memutuskan untuk menaruh sesuatu di internet, ia punya tanggung jawab besar terhadap apa yang ia taruh. Karena hal itu akan dinikmati banyak orang. Bila tak ingin orang lain menikmati, maka tulis saja di buku catatan, dan simpan di dalam laci dengan kunci.

     Saya harus memikirkan pembaca juga, selain kepuasan batin saya dalam memiliki blog dan mengelolanya.

    Bismillah. Wish me luck, everyone! Terima kasih untuk message FB, SMS, E-mail dan mention-mention dukungan yang telah teman-teman berikan untuk tetap mendukung dan mempercayai saya (walaupun saya sendiri sempat merasa kehilangan semangat, minat dan kepercayaan diri). I really appreciate it and I love all of you deeply.

Regards,

Aul Howler